KRI Ki Hajar Dewantara 364 Kapal Perang Penjaga Kedaulatan RI

 

 

koranibm.com – Nama Ki Hajar Dewantara tentunya tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Tanggal kelahirannya 2 Mei 1889) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ia juga dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Bagian dari semboyan ciptaan nya, Tut Wuri Handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.

Selain sederet apresiasi dari pemerintah tersebut, namanya juga diabadikan menjadi salah satu nama kapal perang milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Mengutip tulisan dari HobbyMiliter, Kapal Republik Indonesia (KRI) Ki Hajar Dewantara 364 (KDA) merupakan kapal perang jenis korvet latih atau dalam istilah lain disebut sebagai training corvette.

Dibanding kapal latih lainnya seperti KRI Dewaruci, KRI Arung Samudera, dan KRI Bimasuci, KRI Ki Hajar Dewantara merupakan satu – satunya kapal dari jenis korvet latih yang dimiliki oleh TNI AL hingga saat ini. Kapal perang ini mempunyai kemampuan untuk membawa dan meluncurkan rudal secara optimal. Dibuat pada tahun 1981 di galangan kapal Uljanic Ship Yard, Split, Yugoslavia, dan dibeli TNI AL dalam kondisi baru.

Operasi Aru Jaya
Uniknya, meski menyandang peran sebagai kapal latih, KDA diberikan nomor lambung 364. Angka pertama 3 menunjukkan bahwa kapal dimasukkan dalam jajaran armada Satuan Kapal Eskorta (Satkorta) TNI AL. Satkorta TNI AL merupakan satuan yang berisikan armada kapal pemukul pertama atau striking force milik TNI AL.

Berbagai operasi militer telah dilaksanakan dengan baik oleh KDA. Salah satunya saat terlibat dalam Operasi Aru Jaya yang dilaksanakan pada awal bulan Maret tahun 1992. Operasi Aru Jaya merupakan operasi militer yang dilaksanakan oleh TNI AL untuk menghalau kapal feri Lusitania Expresso yang berangkat dari Portugal membawa aktivis pro-kemerdekaan Timor Timur (Timor Leste) ke wilayah Timor Timur.

Dalam operasi tersebut, KDA menjadi kapal perang pertama yang menemukan dan mencegat kapal feri Lusitania Expresso. Baru kemudian KRI Yos Sudarso 353 ikut bergabung dalam upaya pencegatan kapal feri tersebut. Operasi ini berjalan dengan mulus. Bahkan kapal feri Lusitania Expresso bisa diusir tanpa adanya kontak senjata.

Pengabdian 40 Tahun
Di masa pengabdiannya hampir 40 tahun, telah sangat banyak perwira-perwira di tubuh TNI AL yang telah dibina di kapal ini. KDA sendiri sanggup membawa 91 orang awak kapal, 14 orang instruktur, dan 100 orang taruna AL.

Maklum saja, kapal ini mempunyai panjang 96,7m, lebar 11,2m, dan tinggi 3,55m dengan bobot 1.850 ton. Sebagai fasilitas utama adanya dek landasan yang dapat digunakan sebagai landasan helikopter utilitas ringan seperti NBO-105 Bolkow.

KDA mempunyai kecepatan maksimal 26 knot, dengan mengandalkan mesin gas turbin Rolls-Royce Olympus TM 3B. Untuk kecepatan jelajah hingga 20 knot, dan mampu dibawa hingga 6.400km jauhnya

Kapal perang ini dipersenjatai dengan 1 unit meriam Bofors 57/70 kaliber 57mm, 2 unit kanon penangkis serangan udara Rheinmetall MK20 Rh202 kaliber 20mm, 4 unit rudal anti kapal Exocet MM-38, rudal anti serangan udara Mistral, torpedo AEG SUT dengan diameter 533mm, bom dan mortir anti kapal selam.

Penulis: Ajidartaji

Foto: Hobby Militer

FUTEBOL MOLEQUE

FUTEBOL MOLEQUE

Leave a comment

Your email address will not be published.


*