Apakah Rupiah Akan Kembali Pulih?

koranibm.com – Ekonom Salvatore mengatakan, definisi nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Nilai tukar mata uang suatu negara bersifat fluktuatif dan dinyatakan dalam perbandingan dengan mata uang negara lain. Jika nilai mata uang menguat, maka nilai ekspor produk dari negara tersebut akan menjadi lebih tinggi. Sebaliknya jika nilai mata uang melemah,  nilai impor barang dari negara lain akan lebih rendah.

Hal yang sekarang terjadi di negara kita, nilai tukar Rupiah mengalami guncangan yang signifikan pada tahun ini. Rupiah terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (USD). Nilai tukar selalu berada di atas Rp 13.000 per USD.

Akibatnya, harga barang-barang impor menjadi naik di Indonesia. Hal ini yang menyebabkan terjadinya Inflasi. Meski begitu, pemerintah selalu membela diri dengan menyebut pelemahan Rupiah terjadi karena sentimen global. Menganggap fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat. Bahkan Bank Indonesia (BI) telah mengintervensi dengan melakukan pembelian surat utang dan penjualan valuta asing untuk menjaga Rupiah di level aman, tetap saja trennya menurun.

Faktor Eksternal dan Internal

Beberapa ahli mengungkapkan, melemahnya nilai tukar rupiah akhir-akhir ini murni disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang dimaksud adalah aksi borong dolar yang dilakukan spekulan asing, menguatnya Dolar Amerika Serikat (AS) sebagai imbas membaiknya data ekonomis AS, keinginan AS menaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Hingga menyebabkan kegiatan ekonomi luar negri atau ekspor impor menjadi terganggu, dengan naiknya harga-harga barang yang mengunakan mata uang USD. Indonesia saat ini masih melakukan impor bahan baku, terutama pada beras dan kedelai yang membuat harga produk yang menggunakan bahan baku impor tersebut menjadi naik.

Untuk faktor internal di balik turunnya nilai tukar rupiah adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang kurang optimal dengan lambannya peningkatan konsumsi domestik. Meski sebenarnya, tren pelemahan ke dollar AS tidak hanya terjadi pada rupiah, tapi juga terjadi pada mata uang negara Asia yang lain.

Pelemahan nilai tukar rupiah adalah berita buruk bagi masyarakat Indonesia yang akan bepergian ke luar negeri, atau bagi mereka yang akan belanja online. Tiket pesawat, tarif hotel dan harga-harga barang impor dalam dollar AS menjadi lebih mahal bagi konsumen Indonesia. ketika importir merugi, eksportir Indonesia justru diuntungkan dengan situasi ini.

Bagi konsumen di luar negeri, barang-barang Indonesia menjadi lebih murah ketika rupiah melemah. Produk buatan Indonesia yang di ekspor akan menjadi lebih kompetitif di pasar dunia. Ketika ekspor naik dan impor turun, net ekspor Indonesia akan meningkat. Pertumbuhan jangka pendek ekonomi Indonesia dalam hal ini akan terpacu. ini akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang beberapa tahun ini macet di level 5 persen.

Beban Hutang Naik

Sebenarnya, pelemahan rupiah akan baik untuk posisi perdagangan dan ekonomi Indonesia karena bisa berdampak positif. Namun, kita harus berhati-hati dengan dampak-dampak negatif lainnya bila rupiah terus merosot. Rupiah yang terus merosot akan menambah beban utang bagi pemerintah, mengingat sebagian utang Indonesia ada di dalam bentuk mata uang asing.

Turunnya nilai tukar rupiah yang berkelanjutan juga akan menyebabkan kenaikan laju inflasi dengan semakin mahalnya ongkos produksi, khususnya untuk produksi yang memakai bahan baku impor. pada akhirnya Bank Indonesia harus mengambil pilihan berat untuk lagi-lagi menaikkan suku bunga demi meredam kenaikan laju inflasi di Indonesia, dan memberikan stimulus untuk menaikkan rupiah.

Menurut Tommy Soesmanto (Lecturer – Economics and Business Statistics, Griffith University) prospek rupiah kedepan bahwa akan sangat mungkin pada pengujung tahun ini untuk rupiah semakin jatuh isyarat-isyarat yang ada menunjukkan bahwa akan ada kenaikan suku bunga dua kali lagi di Amerika tahun ini. sekarang ekonomi dunia juga lagi dihebohkan dengan perang dagang Amerika versus China. Konflik perdagangan ini akan berdampak negatif untuk ekspor Indonesia, khususnya komoditas seperti biodiesel dan produk-produk turunan dari minyak mentah kelapa sawit.

Cina dan Amerika adalah dua negara terpenting untuk ekspor Indonesia. Dampak negatif perang dagang kedua negara ini mungkin akan merugikan Indonesia. Implikasi selanjutnya adalah menurunnya permintaan rupiah yang akan berdampak pada terus melemahnya rupiah. BI harus siap mengintervensi lagi dengan menjual valuta asing untuk menghindari krisis rupiah. Untungnya, sekarang BI mempunyai cadangan valuta asing yang jauh lebih mumpuni dibanding ketika Indonesia menghadapi krisis moneter asia pada 1998.

Jadi, bersiaplah! Fluktuasi rupiah yang cukup signifikan akan terus terjadi!

 

Penulis: Ilham Subagya)

Foto: Berbagai sumber

 

 

 

 

 

 

FUTEBOL MOLEQUE

FUTEBOL MOLEQUE

Leave a comment

Your email address will not be published.


*