PERAN PEMUDA DI BALIK GERAKAN EKONOMI ISLAM DI INDONESIA

Koranibm.com:

 Anto Apriyanto, M.E.I

Dosen Ekonomi Islam IBM-B dan Ketua Harian KONEKSI

M. Arfin Hamid, Guru Besar Hukum Ekonomi Islam dari Universitas Hasanuddin Makassar menyatakan dalam bukunya “Membumikan Ekonomi Syariah di Indonesia, Perspektif Sosioyuridis” (2008: 313), bahwa khusus di Indonesia, pada tahun 1970-an, gerakan Islam secara nasional memasuki lapangan baru di bidang ekonomi dengan memperkenalkan sebuah sistem ekonomi Islam di antara sistem-sistem ekonomi yang ada, yaitu sebagai alternatif dari sistem kapitalisme dan sosialisme. Wacana sistem ekonomi Islam diawali dengan konsep ekonomi dan bisnis non-ribawi. Gerakan ini sama saja dengan memperjuangkan tegaknya syariat Islam di bidang politik dan hukum di tanah air. Sejumlah tokoh muda yang terlibat dalam wacana ekonomi Islam kala itu, antara lain A.M. Saefuddin, Karnaen Anwar Perwataatmadja, M. Amin Aziz, Muhammad Syafi’i Antonio, dan lainnya. Puncak dari perjuangan dalam mewacanakan ekonomi syariah ditandai dengan didirikannya lembaga keuangan syariah pertama pada tahun 1992, yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI) berkat prakarsa MUI, ICMI, dan pemerintah Orde Baru.

Saat perjuangan gerakan ekonomi Islam di tanah air dimulai pasca-proklamasi hingga awal dasawarsa 1990-an, nama-nama tokoh yang disebutkan sebagian oleh Arfin Hamid di atas masih berusia muda. Hal ini semakin menguatkan teori bahwa perubahan dan kebangkitan selalu diperjuangkan oleh asy-syabab atau para pemuda. Syabab atau Pemuda, di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang muda laki-laki; remaja; teruna. Atau bisa diterjemahkan sebagai sebagai generasi muda. Sementara itu, di dalam kamus bahasa Arab, makna Asy-Syabab atau pemuda berarti lelaki yang masih muda atau anak-anak muda. Biasanya Syabab adalah sebutan untuk anak-anak usia sekolah. Tetapi di dalam hadits, untuk lelaki di bawah usia 40 tahun masih disebut sebagai asy-syabab atau pemuda. Lalu, apa kaitan pemuda dengan kebangkitan gerakan ekonomi Islam di Indonesia? Jawabannya adalah karena kebangkitan ekonomi Islam di tanah air dilakukan oleh para pemuda saat itu.

Namun banyak yang tidak mengetahui bahwa keberhasilan perjuangan penegakkan sendi-sendi ekonomi Islam di negeri ini ternyata tidak bisa dipisahkan dari peran besar seorang bapak bangsa sekaligus ulama besar Indonesia bahkan dunia, yakni Allahyarham Mohammad Natsir. Betapa tidak, dari kepiawaiannya menyeleksi para pemuda yang tepat untuk mengemban amanah dalam masa perintisan dan pembangunan ekonomi Islam pasca-kemerdekaan RI lahirlah cita-cita gerakan ekonomi Islam yang sementara ini baru berwujud lembaga keuangan dan non-keuangan syariah. Masyarakat Indonesia mengenal kiprah M. Natsir yang akrab dipanggil Pak Natsir di dalam negeri yang begitu banyak menghiasi sejarah. Tak terkecuali di dunia internasional. Ia pernah menjabat sebagai anggota Majlis Ta’sisi Rabithah al-Alam al-Islami yang berkedudukan di Arab Saudi; dan sampai akhir hayatnya memegang jabatan sebagai Wakil Presiden Mu’tamar al-Alam al-Islami yang berkedudukan di Pakistan; pernah menjabat anggota pendiri Dewan Masjid Sedunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah; anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London, pada tahun 1987; hingga pernah diusulkan menjadi Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam (OKI), namun tidak disetujui oleh Pemerintah RI.

Dalam kaitan dengan perkembangan gerakan ekonomi Islam di tanah air tersebut, M. Natsir menjadi ‘orang di belakang layar’ yang mampu memberikan arahan dan kemudahan bagi para pemuda Islam. Perjuangan pada fase ini dimulai sejak M. Natsir memanggil seorang pemuda potensial yang baru saja meraih gelar doktor ekonomi dari Jerman yang bernama Ahmad Muflih Saefuddin guna menghadapnya di Kantor Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat di Jakarta, pada sekitar 1975. Ahmad Muflih Saefuddin yang belakangan lebih dikenal di dunia politik sebagai A.M. Saefuddin ditugasi Pak Natsir untuk mewakili Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) menghadiri The First International Conference on Islamic Economics di Mekkah (Arab Saudi) atas prakarsa Raja Faisal bin Abdul Aziz yang sedianya akan dihelat di tahun tersebut. Namun karena terjadi kasus pembunuhan terhadap Raja Faisal oleh keponakannya sendiri, konferensi tersebut baru terlaksana pada tahun berikutnya, 1976, dan dipersembahkan oleh King Abdul Aziz University.

Pemuda A.M. Saefuddin yang saat itu baru berusia 35 tahun, diamanahi untuk memimpin delegasi muslim Indonesia menghadiri konferensi ekonomi Islam Internasional tersebut. Ia tidak sendiri. Pak Natsir ternyata juga telah memilih para pemuda lain untuk berangkat ke sana. Meskipun instruksi tersebut bukan berasal dari pemerintah RI, namun pada hakikatnya A.M. Saefuddin dan kawan-kawannya telah dipilih mewakili seluruh muslim Indonesia. Para pemuda aktivis Islam yang dipilih dan diberangkatkan Pak Natsir saat itu yakni Azhari Zahri, M. Arsjad Anwar, Bakir Hasan, Ismail Sunny, dan Nursal. Dari enam orang tersebut, empat orang berangkat bersama dari tanah air, yaitu A.M. Saefuddin, M. Arsjad Anwar, Bakir Hasan, dan Nursal. Disusul oleh Ismail Sunny. Sementara Azhari Zahri berangkat dari Singapura. Menyusul kemudian Deliar Noer yang berangkat dari Australia, dan Halide, yang menurut pengakuannya terlambat datang pada acara tersebut, mewakili aktivis Islam Indonesia bagian Timur. Setelah mendapatkan undangan konferensi, beberapa pemuda tersebut yang berada di sekitar Jakarta datang menemui Pak Natsir untuk mendapatkan pengarahan.

Tentu saja para pemuda yang mendapatkan undangan atau tugas dari Pak Natsir tersebut merupakan orang pilihan dan bukan orang sembarangan. Setidaknya dilihat dari aktivitas atau kedudukan mereka saat itu, yakni:

  1. M. Saefuddin. Pada sekitar 1976 ia adalah dosen muda IPB dan Universitas Ibn Khaldun Bogor. Doktor ekonomi pangan dari Universitas Justus Liebig Jerman serta dikenal sebagai aktivis pemuda Islam Bogor. Ia mulai dikenal secara luas lewat gagasan Islamisasi Sains dan Kampus (ISK) yang ia kampanyekan dalam tulisan dan berbagai seminar saat mulai menjabat sebagai Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor pada tahun 1983. Guru Besar dari Universitas Djuanda Bogor ini terakhir pernah menjabat sebagai Menteri Pangan dan Hortikultura di era Presiden B.J. Habibie.
  2. Azhari Zahri. Pada 1976 ia lulusan Magister Ekonomi Perencanaan dari Indiana Universiy, Amerika Serikat. Ia pernah menulis buku “Perentjanaan Pembangunan Ekonomi” penerbit Pembangunan, Jakarta, tahun 1966. Ia mewakili dosen muda dari institusi atau kampus swasta di Indonesia.
  3. Arsjad Anwar. Kala itu ia sudah menjadi dosen muda di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia bersama Bakir Hasan mendapatkan undangan untuk mengikuti konferensi ekonomi Islam internasional tersebut langsung dari panitia penyelenggara melalui departemen ilmu ekonomi di fakultas tempat mereka berdua mengajar. Sekitar tahun 1976 ia menjabat sebagai Wakil Direktur Penelitian LPEM Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pendidikannya saat itu baru MBA (Master of Business Administration) bidang Operation Research dari University of California Berkeley, California, Amerika Serikat. Belakangan ia dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Statistika dan tokoh BPS (Badan Pusat Statistik). Sayangnya saat penulis mencoba mewawancarai beliau pada medio November 2013 silam, entah apa alasannya, Arsjad Anwar kelihatan sangat keberatan untuk membicarakan kisah seputar keterlibatannya sebagai peserta konferensi itu berikut perjuangan ekonomi Islam di Indonesia.
  4. Bakir Hasan. Saat itu ia adalah dosen muda di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, rekan sejawat Arsjad Anwar. Peraih gelar MBA dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Di kemudian hari ia dikenal publik saat menjabat sebagai Pemimpin Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara pada tahun 1985.
  5. Nursal. Pada 1976 dikenal sebagai pemuda aktivis Islam, mantan Ketua PB HMI periode 1960-1963. Ia merupakan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  6. Ismail Sunny. Dikenal sebagai Profesor/Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sekitar 1976 ia merupakan tokoh pemuda Muhammadiyah, dan menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah
  7. Deliar Noer. Aktivis pemuda Islam, mantan Ketua PB HMI periode 1953-1955. Doktor (Ph.D) ilmu politik pertama di Indonesia dari Cornell University, Amerika Serikat. Sekitar tahun 1976 sedang berada di Australia. Ia menjadi peneliti di Universitas Nasional Australia.
  8. Halide. Saat itu adalah dosen muda Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar-Sulawesi Selatan. Dikenal sebagai aktivis Islam Indonesia Timur.

Perhelatan akbar konferensi ekonomi Islam internasional perdana tersebut akhirnya berhasil digelar tepatnya pada tanggal 21-26 Februari 1976 bertepatan dengan 21-26 Safar 1396 H, setelah ditunda setahun. Sekitar seminggu A.M. Saefuddin beserta rekan-rekan pemuda tersebut berada di Arab Saudi. Konferensi itu dihadiri sekitar 400 orang peserta, 200 orang di antaranya adalah kalangan cendekiawan muslim dari seluruh dunia dan 200 orang lagi berasal dari para ulama syariah dari seluruh dunia pula. Meskipun panitia dan acara terkesan belum profesional, namun konferensi pertama tersebut berjalan dengan lancar.

Dalam kesempatan tersebut, pemuda A.M. Saefuddin berkesempatan menyampaikan makalahnya yang berjudul “Community Development in Islamic Framework”. Di sana, baik A.M. Saefuddin maupun pemuda lainnya bertemu langsung dengan para pemikir ekonomi Islam internasional seperti Khurshid Ahmad, M. Umer Chapra, dan Muhammad Nejatullah Siddiqi.

Setelah konferensi selesai, para peserta, tak terkecuali dari Indonesia, berkesempatan menikmati fasilitas umrah gratis di Mekkah dan Madinah dari pantia penyelenggara. Sepulangnya dari konferensi, pemuda A.M. Saefuddin mengajak rekan setimnya untuk menggaungkan ekonomi Islam di Indonesia, setidaknya dengan mulai merintis penyebaran pemikiran ekonomi Islam dan juga melembagakan ekonomi keuangan Islam. Sebab saat itu, tahun 1974, sudah berdiri bank Islam pertama di dunia (Islamic Development Bank) di Arab Saudi, sebagai implementasi keputusan Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1972. Kebetulan Indonesia merupakan salah satu anggota OKI yang gigih memimpin rapat-rapat OKI, dengan salah satu agenda besarnya yakni mendirikan Bank Islam. Delegasi Indonesia yang hadir dalam rapat OKI ketika itu diwakili oleh Menteri Keuangan era Soeharto, Ali Wardhana. Sayangnya, ajakan pemuda A.M. Saefuddin untuk memperjuangkan penerapan ekonomi Islam di Indonesia tidak direspon lebih lanjut oleh rekan setimnya yang berangkat bersama itu. A.M. Saefuddin ber-husnuzhan alasan mereka menolak mungkin disebabkan oleh kesibukan, minat kurang, tidak ada yang merangsang, atau pertimbangan politik yang sedang terjadi saat itu yang dikenal dengan istilah ‘monoloyalitas’ (hanya loyal pada Golkar/pemerintah).

Namun pemuda A.M. Saefuddin tidak patah semangat. Ia terus bergerak, mengajak teman-temannya golongan pemuda yang lain yang berminat pada ekonomi Islam. Dalam beberapa kesempatan, ia kerap pula menyindir sikap rekan pemuda yang pernah setim dengannya tersebut dengan istilah ‘terserang sakit gigi’ karena tidak mau bersuara terhadap hal-hal yang berbau Islam. Maka, tidak mengherankan bila dalam kancah pergerakan ekonomi Islam di Indonesia nama-nama tokoh yang disebutkan di awal tulisan ini tidak dikenal kiprahnya, selain A.M. Saefuddin yang diikuti berikutnya oleh Halide di wilayah Timur Indonesia.

Pasca-kepulangannya dari konferensi tersebut, pemuda A.M. Saefuddin mengaku semakin serius mempelajari ekonomi Islam. Ia bersyukur melalui acara tersebut ia tersadarkan bahwa ternyata Islam mengatur juga persoalan ekonomi. Ia menyadari selama ini ekonomi yang dipelajarinya di Indonesia dan Jerman itu ada kelirunya. Keyakinannya semakin kuat tatkala mempelajari buku-buku karya S.M. Naquib Al-Attas dan Ismail Faruqi tentang kebudayaan Islam, pendidikan Islam, dan Islamization of Knowledge. Semangatnya untuk menggaungkan ekonomi Islam mulai diterapkan pertama kali dalam perkuliahan yang diampunya di IPB. Adiwarman Azwar Karim mencatat, pada tahun 1983 saat ia masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Pertanian IPB, A.M. Saefuddin memperkenalkan gagasan ekonomi Islam ke hadapan mahasiswanya dalam forum kuliah formal, melalui buku baru yang ia tulis berjudul “Nilai-Nilai Sistem Ekonomi Islam” seharga Rp 500, yang isinya benar-benar nilai-nilai dasar tentang ekonomi Islam. Padahal seharusnya dua kali kesempatan mengajar (di pembukaan dan penutupan semester) itu A.M. Saefuddin gunakan untuk mengajar mata kuliah Manajemen Pemasaran. Hal itulah yang kemudian menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi Adiwarman Karim muda untuk menjadi tokoh ekonomi syariah di kemudian hari.

Dalam masalah riset, lembaga studi ekonomi Islam yang pertama kali didirikan di tanah air pada saat itu bisa dikatakan masih sedikit. Salah satunya adalah Pusat Studi Ekonomi Islam yang didirikan pemuda A.M. Saefuddin di Universitas Ibn Khaldun Bogor pada sekitar tahun 1980-an. Dari lembaga inilah A.M. Saefuddin mulai menyebarkan ide tentang ekonomi Islam, baik secara konsepsi maupun aksi. Di antara aksi yang pernah digagasnya bersama aktivis pemuda lainnya di antaranya adalah Adi Sasono, M. Amin Aziz, dan M. Dawam Rahardjo, yaitu Koperasi Ridho Gusti di Jakarta dan Baitul Mal Salman ITB (1988). Meskipun pada akhirnya gagal.

Akhir 1980-an, pergerakan ekonomi Islam Indonesia saat itu tidak bisa dipisahkan dari peran seorang pemuda birokrat di Departemen Keuangan RI. Pemuda itu bernama Karnaen Anwar Perwataatmadja. Di usia mudanya ia pernah menjabat dua kali sebagai Executive Director Islamic Development Bank (IDB) untuk Indonesia. Berkat jasanya membidani kelahiran Bank Muamalat Indonesia (BMI) ia diberi gelar “Bapak Bank Syariah Indonesia”. Suka-duka dan sekelumit kisah di balik pendirian bank syariah pertama di Indonesia yang tak lepas dari peran pemuda Zulqarnain, begitu ia dipanggil di Jeddah, kemudian dibukukan oleh Chandra Ismail dkk. dengan judul “Bank Syariah Setelah Dua Dekade, Antara Cita dan Fakta” yang berisi pula pemikiran serta biografi Karnaen.

Gerakan ekonomi Islam sejatinya adalah upaya membentuk sistem ekonomi Islam (SEI) yang mencakup semua aspek ekonomi sebagaimana didefinisikan oleh Umer Chapra dalam The Future of Economics. Sejarah mencatat, perjuangan penerapan ekonomi Islam di tanah air dilakukan oleh para pemuda yang di masa mudanya itu sudah memiliki keilmuan yang mumpuni, semangat membara, dan kiprah di masyarakat yang nyata. Harapannya, dengan melakukan ikhtisar kembali terhadap gerakan pemuda tersebut dapat ditemukan ibrah (pelajaran berharga) yang berguna sebagai cerminan untuk pemuda di masa kini dalam menatap masa depan. Sekaligus solusi dan perencanaan matang pergerakan pemuda Islam selanjutnya. Yang terpenting, gerakan ekonomi Islam yang telah diilhami oleh Sarekat Dagang Islam 1905 silam, dan disusul oleh pergerakan lainnya seperti Muhammadiyah (1912) lalu Masyumi (!945), semoga dapat menginspirasi pemuda muslim Indonesia yang hidup hari ini, bahwa dari pergerakan ekonomi Islam ternyata mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Tinggal pertanyaan yang tersisa, apa yang sudah dipersiapkan dan diperbuat oleh pemuda Islam hari ini untuk melanjutkan ke fase pergerakan ekonomi Islam selanjutnya?

*ed. Harun

 

 

 

 

 

FUTEBOL MOLEQUE

FUTEBOL MOLEQUE

1 Comment on PERAN PEMUDA DI BALIK GERAKAN EKONOMI ISLAM DI INDONESIA

  1. https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdkWeb: almawaddah.info

    Salam

    Kepada:

     

    Redaksi, rektor dan para akademik

    Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan

    Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari web: almawaddah. info

    Selamat hari raya, maaf zahir dan batin. 

    Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan

Leave a comment

Your email address will not be published.


*